Friday, April 15, 2011

Eternally

Pria itu ditemukan tewas di bawah sebuah jembatan kumuh. Setelah beberapa hari tak bernyawa, barulah masyarakat menemukannya. Beberapa orang mengenalinya sebagai pengemis kumal yang selalu meminta minta di sekitar jalan menuju pasar. Hanya itu, identitasnya hanya sekedar pengemis kumal. Kematiannya disebabkan karena kelaparan. Sepertinya berhari - hari dia sudah tidak makan. Jenazahnya dibawa ke rumah sakit untuk kemudian mendapatkan perlakukan yang layak sebagai manusia. Damar yang saat itu sedang bertugas di kamar mayat rumah sakit, menerima kiriman jenazah pria itu. Ia memandikannya dan menyiapkannya untuk dimakamkan. Pakaian pria itu ia buang. Tetapi sesuatu terjatuh dari kantong bajunya. Sebuah kalung emas dengan liontin besar yang bisa dibuka. Damar membuka liontin tersebut dan menemukan foto seorang wanita muda yang sangat cantik. Damar terkejut, pria ini meninggal karena kelaparan, padahal dalam kantongnya terdapat sebuah kalung dan liontin emas, yang pasti harganya sangat mahal. Begitu berharganya liontin tersebut sehingga ia rela menderita daripada menjualnya. Damar mengantongi liontin tersebut. Setelah selesai membereskan semua pekerjaannya, ia pergi. 

Pagi itu, Damar mengunjungi pusat kota dan memasuki sebuah toko mas terbesar di sana. Ia mendekati pemilik toko yang tersembunyi di balik teralis besi sebagai perlindungannya.

'Pak, boleh lihat liontin besar itu?' pinta Damar sambil menunjuk sebuah liontin dalam kotak kaca besar.
'Maaf, liontin itu tidak kami jual. Jelas pemilik toko. Usianya di awal 50an, tetapi dengan perawakannya yang tegap, ia terlihat jauh lebih muda.
'Aku tidak berniat membelinya. Anda pikir pria seperti ini sanggup membeli emas?'
'Lalu untuk apa? Liontin itu sangat berharga, tidak hanya mahal, tetapi besar artinya bagi keluarga kami. Jadi pergilah jika kamu hanya mau main - main!' Pemilik toko berkata tegas.
'Jika sangat berharga, mengapa Anda memajangnya di tempat terbuka seperti ini?' Damar tetap ngotot.
'Sudahlah, pergilah! Sebelum aku panggil keamanan!' Bentak pemilik toko.
'OK.. ok.. akan aku jelaskan maksud sebenarnya. Lihat, aku juga memiliki liontin yang sama. Aku menemukannya pada kantong baju, jenazah yang aku mandikan kemarin. Dan aku teringat liontin di toko Anda.'
'Coba lihat! kemarikan!' Perintah pemilik toko.
'Eits. Enak saja. Sepertinya liontin dan kalung ini sangat mahal. Anda bisa saja membawanya tanpa bisa aku ambil kembali karena Anda ada di dalam.'
'Baiklah. Baiklah! Masuklah.’ Pemilik toko akhirnya menyerah.
Pemilik toko mengajak Damar memasuki ruang kantornya.
‘Duduk’ katanya. ‘Coba kamu jelaskan lagi darimana kamu mendapatkan liontin itu?’
‘Aku bekerja memandikan jenazah di rumah sakit negeri. Tadi malam ditemukan mayat pengemis di bawah jembatan dekat Pasar Kota. Dan ketika aku memandikannya, aku menemukan kalung dan liontin ini. Ketika aku mengantar kepala rumah sakit bulan lalu untuk membeli emas, aku melihat liontin yang sama di toko Anda. Makanya aku datang kemari.’
‘Coba lihat!’
Damar memberikan kalung dan liontin itu. Setelah mengamatinya, pemilik toko kemudian meletakan liontin itu di meja, dan mengambilk kotak kaca berisi liontin satunya.

‘Liontin ini peninggalan ibuku. Dia yang membangun toko emas ini hingga besar dan mewariskannya padaku setelah beliau meninggal dunia 2 tahun yang lalu. Beliau adalah wanita yang sangat bersahaja dan pekerja keras. Ayahku meninggal 10 tahun yang lalu setelah bertahun - tahun mengidap sakit parah. Ibuku merawatnya dengan sabar hingga akhir ajalnya. Aku selalu melihat liontin ini selalu tergantung di lehernya. Beberapa kali rantai kalungnya putus, dan beliau menggantinya. Tetapi tidak dengan liontinya. Pernah suatu kali, beliau kehilangan liontin ini. Berhari - hari beliau merasa panik dan mencarinya ke seluruh rumah. Hingga akhirnya kami menemukannya di dalam sebuah keranjang mainan. Anakku memainkannya dan menyimpannya di sana. Ibuku meraihnya dengan segera. Aku melihat untuk pertama kalinya bagaimana liontin itu menjadi barang yang berharga baginya. Ketika beliau meninggal, aku mengambil kalung itu, dan melihat isi liontin tersebut. Sebuah foto. Pria dan dia bukan ayahku. Lihatlah’

Damar mengamati foto itu. ‘Ini foto pria itu. Pemilik liontin yang aku bawa. Pengemis yang meninggal tadi malam.’
Pemilik toko tersenyum. ‘Akhirnya mereka dipersatukan juga. Lihatlah! Liontin saling tertarik satu sama lain. Dan nama mereka tercantu di belakangnya.’
Jadi siapa pria itu? Apa hubungannya dengan ibu Anda?’

‘Dia adalah cinta pertama ibuku. Mungkin juga satu - satunya cinta dalam hidupnya. Cinta yang membuatnya tetap bertahan hidup selama ini. Walaupun beliau merawat ayahku dan aku dengan penuh cinta, tetapi aku sering melihat matanya memandang jauh ke depan. Mencari sesuatu yang tidak pernah akan beliau temukan. Setelah beliau meninggal dunia, aku membereskan barangnya dan menemukan surat – surat ibuku. Surat yang dikirim pria itu. Pria itu terlahir dari keluarga yang sangat kaya, mungkin orang terkaya di kota ini pada saat itu. Dan dia bertemu dengan ibuku seorang guru desa yang sedang mengunjungi kakaknya yang bekerja sebagai pembantu pada keluarga itu. Pria itu sangat arogan dan keras. Perilakunya yang sombong terbentuk dari didikan keluarganya yang aristokrat. Dia dan keluarganya memandang rendah pada keluarga ibuku. Dan ketika ibuku datang, beliau melihat pria itu sedang bertindak terlalu kasar pada kakaknya sehingga mereka pun terlibat perselisihan. Sepertinya perselisihan tersebut malah menumbuhkan benih cinta pada diri mereka. Ibuku memberikan banyak pandangan baru tentang kehidupan. Keluarganya melihat kedekatan mereka dan berusaha memisahkan. Ketika suatu hari ayah pria itu melihat ibuku sedang duduk di teras mereka. Ayahnya dengan kejam menyeret ibuku ke halaman dan memukulinya. Pria itu datang dan membelanya, perkelahian pun terjadi. Ayah dan anak saling menyerang, hingga akhirnya tongkat yang digunakan untuk memukuli ibuku menusuk tepat ke lambung sang ayah. Dia telah membunuh ayahnya sendiri demi melindungi ibuku.'

‘Lalu apa yang terjadi?’
‘Pria itu masuk penjara. Ibuku dilarang menemuinya. Bertahun-tahun mereka tidak bertemu. Hampir setiap hari ibuku berdiri di depan pintu penjara berharap dapat bertemu. Atau mungkin dengan berdiri di sana, beliau sudah merasa dekat. Seorang sipir penjara melihatnya setiap hari. Dan suatu hari, sipir itu mendatangi ibuku dan berkata bahwa pria itu sudah lama meninggal. Kehidupan penjara terlalu keras baginya.’

‘Tapi dia tidak meninggal. Ya dia sudah meninggal, tetapi baru terjadi tadi malam,  bukan berpuluh - puluh tahun yang lalu!’ Damar tiba - tiba menjadi emosi.
‘Iya. Kamu tahu dia tidak meninggal, aku pun sekarang tahu. Tetapi ibuku tidak. Mendengar kabar itu ibuku terguncang. Dan pria yang mendampingi ibuku pada saat itu adalah sipir itu. Ayahku.’
‘Tidak! Ow, maaf.’
‘Tidak apa, ternyata kenyataan itu memang menyakitkan ya?’
‘Bagaimana dengan keluarga pria itu? Ke mana mereka? Kita bisa menyerahkan jenazahnya pada mereka.’
‘Tanpa dua pria dalam keluarga, keluarga itu menjadi kacau balau. Bisnis emas mereka hancur tak bersisa dan juga bisnis lainnya. Ibunya meninggal setahun setelah kejadian tersebut.’
‘Ternyata nasib tidak berpihak pada mereka ya?’

‘Anak muda, kamu akan menjual berapa liontin ini. Aku akan membelinya berapapun.’
‘Tidak! Tidak. Liontin ini bukan milikku. Aku tidak berhak menjualnya atau bahkan menyimpannya.  Pria itupun sudah tidak mungkin menyimpannya. Lebih baik liontin ini di sini. Bersama pasangannya. Jika Anda tidak keberatan?’
‘Aku tidak keberatan. Tapi setidaknya biarkan aku memberikan sesuatu padamu.’
‘Hmmm.. mungkin Anda bisa memberikan pria itu pemakaman yang layak dan memberikan sebuah nama pada nisannya.’
‘Baiklah anak muda. Akan aku lakukan. Terima kasih atas semuanya. Kamu sangat baik hati. Semoga Tuhan melindungimu.’

Setahun berlalu, Damar mengunjungi makam pria itu. Dia bukan lagi seorang pengemis kumal yang tidak dikenali. Nisannya memiliki nama. Baron Danubrata pria yang dicintai, seorang ayah dan seorang kakek.

~True love stories never have endings~

Thursday, April 14, 2011

Cool Whispers


The wind come into my room through the window
Touch the pure air and feel the breeze
I can feel it on my skin, freezing my heart
I hide under my blanket searching for comfort
It so warm and save, like deep in my mother's arm
I close my eyes, and slowly see my mother 
Her smile is gentle and sweet
Her soft hand touches my cheek

My dear mother,
In the cold winter, you hold me tight
Embrace me with your love
Hush my restless heart

You whisper to my ear 
My dear child,
Remember that Allah is watching us
Never forget to pray
Be grateful and ask for forgiveness 
And may happiness come to your life

Peace for a moment
All the burden fade away
Enlighten my heavy brain
Distinguish my confusion

Through the window
Seeing the outside world
Whispering to the wind
Please mother, take care
I'll be home soon
On your birthday
May Allah  bless you
And give you health

~Mothers hold their children's hands for a short while, but their hearts forever~

Inspired from Cool Whispers - tatta hitotsu no koi- 

Wednesday, April 13, 2011

Ketika Guru harus mengejar Sang Murid: Why these boys don’t want to go to school?

Bajunya penuh dengan keringat, napasnya cepat, kerudungnya berbalik dan miring tertiup angin. Dilihat secara keseluruhan, penampilannya benar – benar kacau balau. Seorang wanita menghampiri dan menunjuk kerudungnya yang berantakan. Dia tidak sadar jika kerudunganya hampir lepas. Yang dia pedulikan adalah sang murid yang telah dia kejar ke rumahnya, tempat nongkrongnya, dan juga rumah teman – temannya dan belum juga dia temukan. Sekarang dia hanya pasrah dan menunggu di gerbang sekolah dan berharap sang murid datang untuk melengkapi nilai-nilainya sebelum pembagian rapot tiba.


Fenomena di sekolah, ketika para wali kelas mengejar murid-muridnya untuk melengkapi nilai-nilai terjadi. Sahabatku bercerita bagaimana muridnya sering tidak masuk dan melalaikan tugas-tugasnya. Nilai mereka yang kurang mengancam mereka menerima rapot kosong. Well, Ok jika mereka -murid murid ini- tidak peduli jika rapot mereka berisi atau tidak, tapi masalah akan kembali pada guru ketika hari pembagian rapot tiba. Para guru akan mendapat berbagai pertanyaan bahkan tuduhan kurangnya sosialisasi mengenai nilai anak – anak mereka. Kurang sosialisasi?? let’s check!!!
1. Daftar anak – anak yang bermasalah telah dipampang di mading sekolah.
kegiatan satu tidak berhasil.
2. Setiap guru mata pelajaran mengumumkan nama siswa yang bermasalah ketika upacara.
sepertinya masih kurang sukses cara ini.
3. Mengirimkan SMS kepada orang tua masing masing.
4. Usaha terakhir adalah menjemput siswanya di rumah.
dan ternyata usaha terakhir ini masih kurang, sehingga beberapa guru harus mengejar mereka…..
what a fight!!

Mungkin masih banyak lagi cara yang dilakukan para guru ini untuk membuat siswa mereka setidaknya memiliki nilai di rapotnya. Sahabatku harus memohon guru mata pelajaran lain untuk tidak pulang, karena dia masih mengusahakan beberapa siswanya untuk menjemput temannya yang bermasalah. Menelepon orang tua dan memohon agar mereka mau mengantar anaknya ke sekolah untuk melunasi utang nilainya. Dan bahkan orang tua pun kesulitan untuk membawa anak mereka ke sekolah.

Why these boys don’t want to go to school?
Penyebab utama mengapa siswa siswa ini memiliki begitu banyak utang nilai pada gurunya, karena hampir semua siswa ini -yang kebanyakan laki laki- tidak pernah masuk sekolah.
Kenapa mereka banyak membolos?? Apakah sekolah sudah tidak lagi menyenangkan?? Atau malah membosankan??

Apakah karena beban hidup mereka terlalu berat sehingga sekolah hanya menjadi sebuah beban tambahan??

Apa yang terjadi pada anak – anak ini?? Kenapa mereka ingin lari dari sekolah dan bahkan menyerah terhadap pendidikan mereka??


Tahukah mereka, bahwa suatu hari mereka akan merasa menyesal karena tidak meneruskan pendidikannya?
Tahukah mereka, bahwa suatu hari mereka akan merindukan guru-guru yang meneriakan segala materi pelajaran di kelas?
Tahukah mereka, jika mereka menyerah sekarang, kehidupan mereka akan lebih sulit lagi?
Hidup memang tidak mudah, tetapi mengapa anak – anak ini begitu mudah menyerah??



What should we do to help them??
Mereka seharusnya diberitahu, kalau sekolah merupakan masa yang paling menyenangkan. Masa muda yang tidak terlupakan. tempat di mana mereka dapat dengan sebebas bebasnya mengekspresikan diri, berteman, dan belajar.
Mereka seharusnya diberitahu, belajar bukan sesuatu yang menakutkan. Jika mereka tahu caranya, belajar bisa menjadi sangat menyenangkan.
Mereka seharusnya diberitahu, berteman dan bermain di sekolah merupakan masa paling indah -seperti lagu obbie mesakh ^^-
Mereka seharusnya diberitahu, bahwa potensi dalam diri mereka dapat berkembang sebebas bebasnya dengan bersekolah.
Mereka seharusnya diberitahu, sekolah dapat menjadi tempat yang aman dan nyaman dan juga menjadi tempat pelarian dari masalah mereka. Mereka tidak perlu tempat lain, mereka hanya perlu lari ke sekolah dan bertemu dengan teman dan guru yang dapat membantu mereka.
Dari mana mereka tahu kalau sekolah merupakan tempat yang paling menyenangkan dan nyaman?? Tidak ada yang memberitahu mereka. TV hanya meributkan masalah politik dan perceraian. Berita sekolah ramai dibicarakan ketika terjadi kekerasan. Sinetron hanya menawarkan kisah kisah mengerikan mengenai cinta tak bertuan. Dan ketika kisah sekolah kembali dilirik untuk dijadikan tema cerita, isinya hanya perebutan sang pujangga yang membuat para tokoh berperilaku tidak bermoral.
Musik yang bergaung di segala penjuru pun tidak sedikitpun memberikan motivasi.
Tidak ada berita, bahwa seorang pelajar berhasil menyelesaikan seratus soal matematika hanya dalam waktu satu jam.
Tidak ada cerita, bagaimana belajar sekuat tenaga akan membawa kebahagiaan, dan bahkan mungkin cinta.
Tidak ada lirik yang bercerita bahwa kehidupan akan lebih mudah dengan belajar sebanyak banyaknya.
Siapa yang bertanggung jawab untuk memberitahu mereka? Orang tua, guru, penulis, pembawa berita, pemusik, pemain sinetron?????
atau kita?

^dedicated to all my best friends and friends who running here and there for the sake of their students^
El_Kumi..... Gambatte!

~The dream begins with a teacher who believes in you, who tugs and pushes and leads you to the next plateau, sometimes poking you with a sharp stick called “truth.”  Dan Rather~

May Your Love Blooms a Hundred Years


I look at the sky and see the stars above
While I am trying to reach it, my hands are shivering
My heart beats so fast as I rush to holding back my tears 
Do you see what I see?

You gave me something that I can't forget
You change me into a different person
A person that has so many dreams
Dreams that everybody have 

I am a loser but I don't walk back
Even the world destroy my courage
I only stop for a while and start to move again

You don't have to see it
You don't need to know
I will send you my prayers
As I watch you walk away

But you already gave me a seed
To start my own garden of flowering trees
When it start to bloom, it will cover with hopes and dreams 
And when it start to fall, it will shower me with happiness

Sometimes an unending dream has its conclusion 
To let it go and fly is a choice
This is my life to live
and you with your own
I'll send you, these flowers
as a prayer for you and the person you love
May your love blooms a hundred years

Inspired from the movie: 

Hanamizuki: May your love bloom a hundred years 


Wednesday, April 6, 2011

When a Rose taken in a Blink on an Eye

“You can shed tears that she is gone,
or you can smile because she has lived.

You can close your eyes and pray that she'll come back,
or you can open your eyes and see all she's left.

Your heart can be empty because you can't see her,
or you can be full of the love you shared.

You can turn your back on tomorrow and live yesterday,
or you can be happy for tomorrow because of yesterday.

You can remember her only that she is gone,
or you can cherish her memory and let it live on.

You can cry and close your mind, be empty and turn your back.
Or you can do what she'd want: smile, open your eyes, love and go on.”


David Harkins quotes (British Poet and Painter b.1958)

To My Beloved Sister, Mba Irin.
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun..
May Allah SWT bless you..
I am gonna miss you..

Keabadian Hijab

Aku begini, tidak berbeda dari yang lain, tetapi juga tidak sama.
Menentukan pilihan di jalan aturan dan norma bukan berarti aku lebih baik dari yang lain.
Aku hanya berjalan dan melakukan apa yang hatiku bilang.
Tersandung dalam satu kesalahan tidak akan merusak semua pilihanku.
Hanya saja mulut ini tidak akan berhenti berdoa.
Permohonan untuk terus menetapkan hatiku.
Membuat pilihanku sebagai suatu keabadian hingga ajal menjemput.
Dan ketika aku harus jatuh, kaki ini masih bisa untuk berdiri kembali.
Dan dengan tangan melenggang, wajahku akan dapat ditegakkan lagi untuk dapat menatap masa depan tanpa rasa khawatir.
Tuhan jagalah hijabku dan juga diriku.
Abadikan pilihanku dan berikan aku kebaikan.
Luruskan jalanku menuju kehidupan selanjutnya.
Aku sedang berjuang, mencari aku yang terbaik.
Agar hatiku damai dan tenang.






Lawrence Block quotes


A first Year Anniversary of My Hijab, Hope it will last forever.
Bismillah

Tuesday, April 5, 2011

Women in the Mirror

Tidak ada yang mudah di dunia. Dan sebuah keajaiban ketika semua dimudahkan. Sebuah ketakutan dan ketidaksanggupan timbul karena ketidaknyamanan pada diri sendiri.
'Aku tidak bisa dan Aku tidak mampu" adalah penyelesaian paling mudah.
Dan penyelesaian ini membawa manusia melempar diri ke sudut ruang tanpa usaha dan mencoba.
Apakah kegagalan lebih menakutkan dari pada berpaling dari kesempatan?
Menutup kesempatan sama saja menutup mata dan telinga. Menghentikan setiap keunggulan fungsi otak.
Sementara kegagalan menginggalkan banyak teka teki untuk diselesaikan. Pertanyaan dengan jawaban kusut. Hanya ketekunan yang dapat mengurainya.
Pada satu titik, manusia berdiri pada sebuah persimpangan. Mengambil jalan meninggalkan kesempatan atau jalan meraih resiko kegagalan.
Dua jalan dipenuhi aroma ketakutan. Tetapi meninggalkan kesempatan bukan pilihan. Manusia tidak tahu rencana Tuhan. Bahwa jalan menuju kegagalan dipenuhi dengan anugerah. Anugerah kemudahan dalam keajaiban nasib.




I am looking at myself in the mirror and said to myself  'what have you done for yourself and other?"